Wednesday, November 28, 2012

PERENCANAAN STRATEGIK DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

A.      Rencana Startegi Dalam Lembaga Pendidikan Islam
Menurut Asnawir (Manajemen Pendidikan, 2006), perencanaan startegis adalah proses pemikiran tujuan perusahaan atau organisasi, penentuan kebijakan, dan program yang perlu untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu di susun perencanaan, di antara metode perencanaan strategis adalah sebagai berikut:
1.    Pendekatan dari atas ke bawah, biasanya dibuat oleh perusahaan yang bersifat sentralisasi.
2.    Pendekatan dari bawah, yaitu metode rancangan perencanaan dari bawah ke atas.
3.    Pendekatan interkatif adalah pendekatan manajer dari pusat bersama direksi-direksi berdialog secara terus menerus selama penyusunan rencana, termasuk juga berdialog dengan para staf pusat dan divisi-divisi.
4.    Pendekatan perencanaan secara tim adalah pendekatan yang lebih banyak dilakukan pada perusahaan kecil dan bersifat sentralisasi.
5.    Pendekatan tingkat ganda adalah pendekatan strategi dirumuskan secara independen pada tingkat korporasi dan pada tingkat unit bisnis.

B.       Pengertian Analisa SWOT
SWOT adalah singkatan yg diambil dari huruf depan kata Strength, Weakness, Opportunity dan Threat, yang dalam bahasa Indonesia mudahnya diartikan sebagai Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Metode analisa SWOT bisa dianggap sebagai metode analisa yang paling dasar, yang berguna untuk melihat suatu topik atau permasalahan dari 4 sisi yg berbeda. Hasil analisa biasanya adalah arahan/rekomendasi untuk mempertahankan kekuatan dan menambah keuntungan dari peluang yang ada, sambil mengurangi kekurangan dan menghindari ancaman. Jika digunakan dengan benar, analisa SWOT akan membantu kita untuk melihat sisi-sisi yang terlupakan atau tidak terlihat selama ini.
Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran) artinya analisa SWOT adalah semata-mata sebuah alat analisa yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi oleh suatu organisasi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang mampu memberikan jalan keluar yang “cespleng” bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh organisasi.
Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
1.  S   =   Strength, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini.
2. W  =  Weakness,.adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
3. O  =  Opportunity, adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang di luar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi di masa depan.
4. T   =   Threat, adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa depan.

C.     Praktek Analisis SWOT
Untuk mencapai keberhasilan dan keberlangsungan PAUD di era pasar bebas tahun 2015, kami mencoba menganalisa dengan SWOT :
·         Strength (kekuatan)
PAUD Islam Al Fatah sudah cukup dikenal dikalangan masyarakat karena letak sekolah kami strategis yaitu persis berada dilingkungan Masjid Jami’a Al Fatah dimana masjid Jami’ tersebut merupakan tempat ibadah yang terletak di jalur utama Perumahan PEMDA Jatiasih sekaligus merupakan jalur alternative paling ramai dari jalan raya Jatiasih jika terjadi kemacetan di jalan raya tersebut. Sehingga peserta didik yang bersekolah di PAUD ini tidak hanya dari masyarakat sekitar kampung Bulak kelurahan Jatiasih saja tetapi sudah sampai pada masyarakat sekitar kelurahan Jatirasa dan kelurahan Cikunir.
Lembaga pendidikan luar sekolah telah banyak dilirik oleh banyak pihak masyarakat untuk membuka PAUD-PAUD yang sejenis, namun kamu menyadari mayoritas masyarakat indonesia yang beragama islam masih pula mengalami kemiskinan, sehingga sekolah untuk anak-anak dari orang tua ekonomi lemah dan dhu’afa masih harus tetap dibantu dan dipertahankan.
Akhirnya PAUD tersebut menjadi lembaga pendidikan dengan biaya murah, sangat terjangkau bagi ekonomi lemah dan gratis untuk masyarakat dhu’afa ditengah perekonomian Negara yang terpuruk berada di level 1 (satu) Negara terkorup di Asia Tenggara, akan tetapi biaya murah bahkan cenderung gratis tidak menyurutkan untuk memberikan pendidikan terbaik terutama pendidikan ke-Islaman bagi masyarakat ini.
Fasilitas yang sudah tersedia di PAUD tersebut baru terbatas pada 4 (empat) ruangan kelas, perpustakaan mini dan peralatan permainan edukasi berupa balok, bola keranjang dan peralatan permainan pura-pura (model) yang lazim dimainkan anak-anak usia pra-sekolah seperti peralatan masak-masakan, dokter-dokteran, dan lain-lain.
Fasilitator kami rata-rata memiliki latar belakang ke-Islaman yang cukup baik, memiliki keikhlasan, berwawasan dan yang terpenting selalu memiliki keinginan untuk belajar. Hal ini akan terus kami kembangkan dengan melengkapi mereka untuk dapat berperan serta dalam training-training serta seminar-seminar seputar pendidikan dan perkembangan anak-anak usia pra-sekolah dan tidak kalah pentingnya yaitu terus konsisten dalam mengembangkan diri dari sisi ke-Islaman.
·         Weaknesses (kelemahan)
Ada beberapa kelemahan yang dimiliki dan terus berusaha untuk mencapai suatu perbaikan tersebut sehingga minimal sisi kelemahan tersebut dapat terkurangi, yaitu antara lain :
·         halaman sekolah lokasi PAUD ini memang berada di lingkungan masjid Jami’, akan tetapi ruangan yang dipakai langsung menghadap ke jalanan dan memang sudah terbentuk demikian sehingga sarana bermain outdoor belum dapat dimiliki.
·         Ruangan kelas PAUD tidak memiliki ukuran yang sama sehingga peserta didik terkadang harus sedikit berdesakan, karena masih mempertahankan bentuk bangunan yang ada disebabkan oleh kurangnya pembiayaan untuk pengembangan fisik ruangan sekolah.
·         Belum adanya lahan atau areal untuk permainan outdoor misalnya jungkat-jungkit, prosotan atau pun ayunan dapat kami sediakan.
·         Dan untuk peralatan indoor masih terbatas pada permainan edukasi seperti balok-balok dan permainan pura-pura (model) saja, karena masih terbatasnya bantuan pembiayaan yang kami terima.

·         Opportunity (harapan)
·           Harapan, impian dan action bisa jadi modal utama dalam mengurai benang kusut permasalahan. Permasalahan yang mendasari PAUD tersebut salah satunya adalah minimnya pembiayaan yang kami miliki.
·     Lokasi strategis di lingkungan masjid, masyarakat luas yang berperan sebagai donatur baik dari segi financial maupun keilmuan, serta masyarakat luas dibawah garis kemiskinan merupakan kesempatan untuk bisa melayani peserta didik secara terus menerus.
·    Keikhlasan para fasilitator dalam mendidik anak-anak usia pra-sekolah ini dapat membuktikan mengapa jumlah peserta didik kami stabil dari tahun ke tahun yaitu berkisar 50-an siswa. 

·         Threat (ancaman)
Ancaman pertama yang dihadapi adalah munculnya PAUD-PAUD sejenis dari tahun ke tahun. Menurut catatan DIKNAS setempat di Kelurahan Jatiasih sendiri ada sekitar 30-an PAUD aktif yang tentunya dengan jumlah peserta didik yang beragam. Mulai dari PAUD bertema umum sampai yang ke-Islaman, dan dari PAUD yang berbiaya masuknya mahal (sekelas TK) sampai yang murah bahkan gratis.
Namun diharapkan pemerintah Direktorat Pendidikan Nasional dapat lebih tegas dan inovatif dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia juga meningkatkan pelayanan serta pengabdian kepada masyarakat harus sangat ditingkatkan,
PAUD tersebut sejauh ini memiliki kecenderungan untuk mandiri, mencari pembiayaan dari pihak ketiga yaitu masyarakat (individu) atau badan usaha swasta walaupun terbilang tidak mudah dalam membangun networking (silaturahim), dan tidak terlalu berharap dari bantuan pemerintah karena adanya kasus-kasus yang melibatkan bantuan pemerintah bagi PAUD oleh penilik DIKNAS itu sendiri.

D.     Perumusan Visi dan Misi Pendidikan Islam
Kata visi berasal dari bahasa inggris, Vision yang berarti penglihatan, daya lihat, pandangan, impian atau bayangan. Secara etimologis bisa juga pandangan disertai pemikiran mendalam dan jernih yang menjangkau jauh kedepan. Visi mengandung arti kemampuan untuk melihat pada inti persoalaan. Menurut Said Budairy, visi adalah pernyataan cita-cita, bagaimana wujud masa depan, kelanjutan dari masa sekarang dan berkaitan erat dengan masa lalu. (Said Budairy, 1994 : 6). Dengan demikian secara sederhana kata visi mengacu kepada sebuah cita-cita, keinginan, angan-angan, hayalan dan impian ideal yang ingin dicapai pada masa depan yang dirumuskan secara sederhana, singkat, padat dan jelas namun mengandung makna yang luas, jauh dan penuh makna.
Visi pendidikan islam sesungguhnya melekat pada visi ajaran islam itu sendiri yang terkait dengan visi kerasulan yaitu membangun sebuah kehidupan manusia yang patuh dan tunduk kepada Allah, sesuai dengan firman-Nya :QS : Al ‘Ankabut : 16
z
Artinya :
Dan (Ingatlah) Ibrahim, ketika ia Berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.
Sedangkan kata misi pun berasal dari bahasa Inggris, Mission yang berarti tugas atau perutusan. Misi merupakan suatu bentuk pernyataan umum tetapi bersifat lestari oleh manajemen puncak yang mengandung niat organisasi yang bersangkutan. Sejalan dengan visi Pendidikan Islam, maka misi Pendidikan Islam juga erat kaitannya dengan misi ajaran islam yaitu adanya upaya memperjuangkan, menegaskan, melindungi, mengembangkan, menyantuni, dan membimbing tercapainya tujuan keadilan agama bagi manusia.
Dalam perumusan visi dan misi pendidikan harus mendapat pola dan rumusan yang jelas dan kompatibel dengan tataran operasionalnya, serta diletakan dalam kontek tatanan masyarakat yang terus berubah dan menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat.
Visi dan misi pendidikan Islam hendaknya tidak terkonsentrasi pada tatanan kehidupan akherat semata tetapi juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan realitas dunia. Artinya visi dan misi pendidikan perlu dilandaskan diatas filosofi dan nilai-nilai dasar pendidikan islam yang menyeimbangkan kebahagiaan dunia dan akherat, latar belakang historis dan kondisi objektif masyarakat muslim. Dalam merumuskan visi dan misi hendaknya harus memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal yaitu :
  1. Nilai-nilai normatif, religius, filosofis yang diyakini kebenarannya
  2. Lingkungan strategis dan
  3. Sejumlah isu strategis umat
Dasar-dasar perumusan visi pendidikan islam hendaknya tidak terlepas dari beberapa pertimbangan pokok seperti berikut ini :
  1. Merefleksikan cita-cita yang hendak dicapai
  2. Mampu memetakan secara jelas antara kesempatan dan tantangan
  3. Mampu menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan strategis yang terdapat dalam lembaga pendidikan sebagai sebuah organisasi
  4. Memiliki wawasan dan orientasi jauh kedepan
  5. Mampu menumbuhkan komitmen seluruh jajaran dalam lingkungan pendidikan
  6. Mampu menjamin kesinambungan kepemimpinan organisasi pendidikan
Perumusan misi bagi suatu organisasi atau perusahaan sangat penting karena misi bukan hanya  sangat mendasar sifatnya, akan tetapi membuat organisasi memiliki jati yang bersifat khas. Pentingnya misi juga terlihat dengan jelas apabila diingat bahwa ia menentukan tugas-tugas utama yang harus terselenggara dalam organisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Beberapa ciri yang harus tergambar dengan jelas dalam suatu misi antara lain:
a.       Misi merupakan suatu pernyataan yang bersifat umum dan berlaku untuk kurung waktu yang panjang.
b.      Secara imprisit menggambarkan citra yang hendak diproyeksikan kemasyarakat luas.
c.       Merupakan pencerminan jati diri yang ingin diciptakan ditumbuhkan dan dipelihara
d.      Menunjukan produksi barang atau jasa apa yang menjadi andalan organisasi
e.       Menggambarkan dengan jelas kebutuhan apa dikalangan pelanggan atau pengguna barang atau jasa yang akan diupayakan untuk dipuaskan.
Keberadaan visi akan menjadi inspirasi dan mendorong seluruh warga sekolah untuk bekerja lebih giat. Oleh karena itu, secara fungsional, visi memiliki beberpa fungsi strategis. Pertama visi diperlukan untuk memobilisasi komitmen, menciptakan energi for action, memberi road map untuk menuju masa depan, menimbulkan antusiasme, memusatkan perhatian dan mananmkan kepercayaan diri. Kedua, Visi diperlukan untuk menciptakan dan mengembangkan shared mindsets atau common vision yang menentukan dan menjadi landasan  bagaimana seluruh individu mempersiapkan dan berinteraksi dengan stakeholdersnya.
Selanjutnya untuk mengoperasionalisasikan fungsi-fungsi strategisnya, maka visi tersebut dikembangkan ke dalam misi. Misi dapat dipahami sebagai pernyataan formal tentang tujuan utama yang akan direalisasikan. Maka, misi merupakan upaya utnuk kongkritisasi visi dalam wujud tujuan dasar yang akan diwujudkan. Visi dan misi sekolah ini akan terus membayangi segenap warga sekolah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam merumuskan misi yaitu :
1.      Melibatkan Stakeholders yang didalamnya termasuk pengurus yayasan, kepala sekolah,guru, siswa, orangtua, masyarakat lingkungan dan pejabat terkait.
2.      Mengamati, memahami dan memberikan pertimbangan dalam menilai lingkungan sekitar, menyangkut tingkat kelayakan, varian kepentingan, dan kondisi lingkungan
3.      Memadukan relasi yang integrative antara kegiatan, proses utama dan sumber daya.
Adapun yang perlu mendapatkan penegasan dalam perumusan misi pendidikan adalah :
1.      Tingkat kelayakan mutu produk yang dihasilkan atau pelayanan yang ditawarkan
2.      Memahami apa yang menjadi kebutuhan dan ketertarikan masyarakat
3.      Memahami jenis-jenis sasaran publik mana yang akan dilayani
4.      Melahirkan mutu produk pendidikan yang kompetitif dan andal
5.      Memahami cita-cita program dan aspirasi yang diproyeksikan kedepan.

Contoh Visi dan Misi di Madrasah Aliyah Negeri 1 Surakarta sebagai berikut :
Visi : Terbentuknya Generasi yang Islami dan Berprestasi
Misi :
·         Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan Agama Islam
·         Meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
·         Mengembangkan potensi akademik siswa secara optimal sesuai dengan bakat dan minatnya melalui proses pendidikan.
·         Melaksanakan bimbingan secara efektif pada siswa untuk melanjutkan pendidikan.
·         Meningkatkan daya saing dan kemampuan siswa ke perguruan tinggi.
·         Meningkatkan penguasaan keterampilan dan life skill

Comments
0 Comments